Sembahyang ke Besakih dan Ulun Danu Batur

BesakihSenin, 9 April kemaren aku sembahyang ke Besakih. Pulang kantor jam 5 tet, aku langsung nyamperin rumah mbo mang ardini di jalan gunung sanghyang. Numpang mandi, ganti baju, kami ( aku, oneng/iluh dan mbo mang) meluncur ke jalan pulau misol untuk bergabung dengan keluarga disana (ada leong, panjul, mbo tut, mbo purnama, bapak dan emek mbo mang). Iluh berangkat dari abiantuwung, tabanan, juga tergesa-gesa, karena dia ada pasien yang harus ditangani. Alhasil kami berangkat ke pura kira-kira jam setengah 7 malam. Satu rombongan naek vw kodok, dan satu lagi naek aero. Pas di tengah jalan baru teringet mau ke pura mana dulu. Karena vw kodok mengambil jalur batubulan, sedangkan kami lewat by pass ketewel, akhirnya telpon-telponan deh. Akhirnya ditetapkan ke pura ulun danu batur dulu. Karena kami udah terlanjur lewat bypass, terpaksa kami ambil jalur bangli, sedangkan vw lewat tegalalang.

Setelah hampir 2 jam perjalanan, kami sampai juga di pura batur. Hawanya dingin sekali, kabut turun begitu pekat. Iluh sampe menggigil, mana bajuya tipis dan banyak lubang udaranya( taulah brokat bali). Aku ga kebayang deh gimana masyarakat disana hidup sehari-hari. Dingiiiin bangetttt.. Setelah selesai sembahyang di pura batur, kami melanjutkan perjalanan ke pura besakih.

Kurang lebih 45 menit, kami tiba di pura besakih. Karena parkiran agak jauh dari pura, kami harus berjalan kaki menuju pura. Untunglah situasi di pura besakih tidak macet, seperti hari-hari sebelumnya (kata temenku, waktu di ke pura, macet gitu). Pertama kami sembahyang dulu di pedarman pasek. Setelah itu baru berencana ke penataran. Begitu masuk halaman penataran, hujan deras mengguyur bumi. Terpaksa kami berteduh dulu beberapa saat sambil menunggu mbo purnama (karena dia ke pedarman yang lain, pujangga). Beberapa saat hujan berhenti, kemudian kami sembahyang. Disertai hujan rintik-rintik kami mengakhiri sembahyang, dan kembali ke lokasi parkir.

Tiba di lokasi parkir, saatnya membongkar paridan (istilah sesaji yang sudah dipersembahkan). Ada ketupat, ayam, telor dsb. Setelah itu membeli kopi panas. Nikmatnya kopi panas di suasana dingin seperti itu.

Akhirnya setelah kenyang, kami bertolak ke denpasar. Sampai di denpasar kira-kira jam setangah 3 pagi. Oneng tidur sepanjang perjalanan, hanya sesekali terbangun kalo mobil melintas di jalan yg agak rusak, atau kalo mobil melaju terlalu kenceng di tikungan. Waduh, sampe rumah jam 3, aku harus keburu tidur, lumayan sampe jam 8, berangkat kantor lagi. Sekarang pun sambil menulis blog ini aku agak mengantuk, tapi untung ada kopi. Hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: